11 Maret 2010

» Home » Media Indonesia » Pesan Akhir Pekan

Pesan Akhir Pekan

Jenuh dengan tontonan politik? Sekalipun menjenuhkan dan menguras emosi, kasus Century akhirnya membuat masyarakat tahu, sebenarnya partai-partai politik kalau mau bisa memperbaiki karut-marut proses demokrasi di negeri ini. Misalnya, Pansus Bank Century terbukti mampu menguak realitas Century, walaupun mungkin belum tuntas. Paling tidak, masyarakat sadar partai-partai politik bersedia menangkap aspirasi-aspirasi yang berkembang di masyarakat.


Sebelum ini terkesan yang diutamakan kepentingan kelompok. Selain itu, program SBY "ganyang mafia hukum" dalam 100 hari pertama periode ke-2 pemerintahannya juga berhasil menggertak semua pihak untuk membereskan sektor ini, tanpa harus miris akan menjadi korban balas dendam. Hal-hal itu memberi harapan untuk demokrasi kita. Sebenarnya seluruh episode Bank Century bisa disebut tragedi untuk sejarah bangsa ini.

Namun ada sisipan-sisipan komedi karena perilaku 'nyleneh' dan inkonsisten pemain-pemain politik yang menganggap diri hanya bagian peran-peran dalam panggung politik. Yang mereka lakukan mengingatkan saya pada film komedi Mad Money, film garapan Hollywood tentang sejumlah perempuan cantik di bank sentral Amerika; antara lain dimainkan bintang-bintang kenamaan Diane Keaton dan Queen Latifah. Mereka bersekongkol mencuri lembaran-lembaran uang kertas tua yang akan dimusnahkan, yang nilainya mencapai ratusan ribu dolar.

Akhirnya penegak hukum mengendus perbuatan mereka. Namun mereka lolos dari jerat hukum karena bukti tindak kriminal mereka tidak kuat. Terjadi barter. Mereka tidak dikenai tindakan hukum bila seluruh hasil curian dikembalikan. Lucunya, yang mereka sembunyikan demikian besar sehingga, sekalipun dinyatakan sudah dikembalikan, masih amat banyak yang tersisa. Perempuan-perempuan itu pun bergembira ria menikmatinya. Tapi itu komedi Hollywood. Hanya sebuah fiksi.

Tindak kriminal versus gerakan moral Mad Money yang disajikan Star Movies Indovision di akhir pekan lalu antara lain memberi pesan: janganlah berlarut-larut bersitegang karena bahasa hukum memiliki celah-celah yang sulit diperkirakan awam. Sementara kasus Century harus melewati jenjang hukum sebelum mencapai akhirnya.

Untuk yang meminati perkembangan sosial politik, tayangan tentang Century memang menarik, sekalipun kita patut bertanya, apakah kasus yang menjadi tontonan itu memberikan pelajaran moral yang mencerahkan? Syukurlah akhir pekan lalu menyajikan tontonan alternatif yang membawa pesan moral kuat, yang lebih inspiratif, lebih menyentuh, dan lebih bermanfaat untuk suatu masyarakat yang sedang haus keteladanan. Dalam rangka ulang tahunnya ke-4 pentas Kick Andy memperkenalkan pahlawan-pahlawannya lewat Metro TV.

Seperti pada 2009, tahun ini pun terpilih tujuh orang hebat sebagai pemenang Kick Andy Heroes Awards 2010. Masing-masing: Saekan sebagai pejuang lingkungan, Joserizal Jurnalis sebagai pejuang kesehatan, Dynand Fariz sebagai pejuang budaya, Ciptono sebagai pejuang pendidikan, dan Agusa Bambang Priyanto sebagai pejuang sosial.

Dua orang lainnya, Sidik dan Eko Ramaditya Adikara mendapat penghargaan khusus. Sidik terlahir tanpa kedua kaki mulai dari pangkal paha. Tubuhnya hanya terdiri dari separuh badan. Kegigihannya telah membuat dia berhasil mandiri dengan menjadi produsen yang memasarkan sendiri kerupuk singkong cap Gurame. Setiap bulan dia mengolah antara 50-75 kilogram singkong. Dia menikah dan memiliki tiga anak perempuan yang normal.

Penghargaan khusus lainnya diberikan kepada Eko Ramaditya Adikara yang tunanetra. Rama, nama panggilannya, menjalankan kegiatan sebagai jurnalis, arranger musik untuk game, dan motivator. Rama tampak begitu ringan menjalani hidupnya. Mottonya, "If you want to be loved, make yourself loveable."

Andy F Noya, host program Kick Andy pernah mengatakan, "Justru dalam keterbatasan, mereka melakukan hal-hal besar yang tidak semua orang terpanggil untuk melakukannya." Dalam buku Kick Andy, Seven Heroes, yang terbit bulan November 2009, Dr Imam Prasodjo menyebut orang-orang seperti itu 'abnormal'.

Dia mencontohkan tokoh-tokoh 'abnormal' dalam sejarah hidup para pejuang politik seperti Tan Malaka, Bung Karno, dan Bung Hatta, misalnya. "Mereka itu bukanlah orang-orang biasa yang hidup sekadar untuk makan, menikah, memiliki anak, kemudian mati. Mereka memiliki mimpi, memiliki angan-angan."

Sekadar perenungan, gerakan moral bukanlah monopoli individu-individu tertentu, kelompok-kelompok tertentu, atau masyarakat tertentu. Gerakan ini terbuka bagi siapa pun yang merasa terpanggil dan tentunya dengan lapang dada dan rasa bahagia menjalankan panggilannya itu demi kepentingan orang banyak.

Dalam buku Seven Heroes pula Gede Prama, penutur kejernihan, menyatakan "...ada banyak bibit di dalam diri manusia. Ada bibit kebodohan, keserakahan, kemarahan, iri hati, dendam. Ada juga bibit kesabaran, kasih sayang, cinta, memaafkan, persahabatan. Pertanyaan berikutnya, bibit-bibit mana yang kita sirami setiap harinya?"

Oleh Toeti Adhitama Anggota Dewan Redaksi Media Group
Opini Media Indonesia 12 Maret 2010