02 Oktober 2009

» Home » Suara Merdeka » Gempa dan Kepedulian Pemimpin

Gempa dan Kepedulian Pemimpin

Musibah gempa menimpa Sumatra Barat, Rabu (30/9/ 09) memakan korban sekitar 500 jiwa. Tentu setiap musibah selalu meninggalkan duka. Dan pasti tak ada seorang pun yang menginginkan musibah datang kembali. Cukup mengambil hikmah dari musibah, belajar sekali dari kejadian ini, dan semoga tak terulang kemudian hari.

Terkait dengan sikap kita mengambil hikmah dari setiap bencana serupa yang sering terjadi di negeri kita, Trevor Kletz (1993) dalam buku Lessons from Disaster  membuat ungkapan ”Silahkan seorang manajer merancang produksi dan menghitung keuntungan finansial dari perusahaannya untuk beberapa tahun ke depan. Tapi cobalah juga pada saat yang sama beberapa menit saja ledakan besar dan kebakaran terjadi.’’

Meskipun lingkup perhatian Kletz untuk membangun safety systemsebuah industri, tapi aplikasi pesan yang disampaikan bersifat umum. Kletz pada intinya menekankan arti penting dari learning and remembering terhadap pelajaran dari bencana di masa lalu. Dan potensi bencana entah kecil atau besar akan mungkin terulang kembali dalam hitungan tahun pada tempat yang sama.
Kepemimpinan Apa yang diutarakan oleh Kletz relevan untuk para pemimpin di Indonesia, terutama para wakil rakyat yang baru saja dilantik. Sebelum mereka menjadi wakil rakyat, tidak sedikit para elite politik berlomba mengobral janji harga beras turun, harga BBM turun, gaji naik, dan seterusnya. Padahal pada saat yang sama, memori publik sering diingatkan oleh rekaman kejadian bencana banjir dan gempa yang beberapa kali melanda banyak daerah di Indonesia. Dengan berulangnya bencana ini, apakah berarti kemampuan learning dan remembering  pemimpin kita sudah begitu rapuh?

Hampir semua pemimipin mengenal bahwa negara kita berada di daerah ring of fire (lingkaran api) karena rawan terhadap bencana alam. Empat lempeng tektonik (Benua Asia, Australia, Samudera Hindia dan Samudera Pasifik) dan adanya sabuk vulkanik yang memanjang dari Pulau SumaterañJawañNusa TenggarañSulawesi, menyebabkan negara kita pemilik natural hazard  seperti gempa, longsor dan banjir, tertinggi di dunia.

Dari total bencana yang pernah terjadi, bencana cuaca dan perairan (hidrometeorologi) adalah yang paling sering terjadi, meliputi banjir (34,1%) diikuti oleh tanah longsor (16%) (Bapenas -Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana Nasioanl /BKP-BN 2006-2009). Bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi hanya 6,4%, tetapi menimbulkan dampak kerusakan dan korban jiwa yang besar, terutama akibat tsunami di NAD 2004 dan gempa bumi Nias 2005.

Yang justru patut dikenali menjadi sumber bencana di kemudian hari adalah bahwa penyebab bencana alam dan dampaknya di masa depan akan lebih kompleks, yakni dari bencana alam semata atau kecelakaan teknologi semata. Ini menjadi hubungan yang saling berpengaruh satu sama lain menjadi sebuah disaster.
Cukup Merusak Sebagai contoh bulan Juli 2007 sebuah gempa melanda Kashiwazaki, Jepang. Meski besaran gempa ‘’hanya’’ 6,8 SR (sama dengan gempa Sumbar), masalahnya utamanya adalah ini sudah cukup merusak fasilitas dan beberapa pipa pembangkit tenaga nuklir di kota ini. Akibatnya, 1.200 liter air yang mengandung sedikit bahan radioaktif bocor dan mencemari laut serta puluhan barel limbah radioaktif tingkat rendah mencemari lingkungan sekitar.

Kasus sejenis di Indonesia adalah kasus lumpur Sidoarjo. Meski pendapat umum mengklasifikasikan sebagai natural disaster  (bencana alam), tetapi kalangan ilmuwan bersepakat mengkategorikan sebagai technological disaster (bencana teknologi) (Richard Davies, Journal Earth and Planetary Science Letters, 2008).

Ancaman bencana alam juga dipengaruhi kondisi politik ekonomi. Krisis ekonomi dunia saat ini membuat banyak ilmuwan khawatir terhadap ancaman bencana lingkungan akibat global warming di masa depan. Penyebab utamanya karena perusahaan-perusahaan besar ternyata ikut kolaps terkena dampak krisis dan tidak lagi fokus untuk berinvestasi dalam proyek-proyek adaptasi perubahan iklim.

Di daerah Sumatra Barat, banyak alat deteksi dini (early warning system) untuk gempa dan tsunami hasil kerjasama beberapa lembaga riset Jerman dengan lembaga riset Indonesia yang telah dibangun ternyata hilang dicuri. Bila ditinjau dari sisi kondisi ekonomi rakyat saat ini, tentu kita menila adanya kewajaran, karena short term memory rakyat lebih dominan mengenal urusan perut hari ini dari pada menanti gempa yang entah kapan terjadi. Dan nahasnya, gempa akhirnya betul-betul terjadi, tanpa pernah terdeksi oleh alat canggih miliaran rupiah yang tidak berfungsi.

Di Indonesia, iklim politik ikut memecah konsentrasi penanganan bencana dan prioritas dana. Sebagai contoh, berita ketanggapan pemerintah daerah pada kasus banjir di Jawa Timur seperti tenggelam oleh berita elite yang memperebutkan kursi Gubernur yang harus diulang beberapa kali. Maka jangan salahkan bila kemudian rakyat mengira bahwa terlantarnya mereka saat ini karena dana yang dimiliki elite politik telah tersedot habis lantaran pilkada.

Sangatlah wajar bila resep penanggulangan bencana pemerintah selama ini perlu dikritisi oleh para wakil kita dan kita perlu mendorong wakil kita menuntaskan agenda-agenda penting penanggulangan bencana. Karena bencana rutin datang tanpa ada perbaikan dari tahun ke tahun dari sisi monitoring atau penanggulangan pascamusibah.

Akhirnya, ungkapan Kletz di awal tulisan ini kiranya perlu dipertimbangkan para calon pemimpin agar membuat negeri ini aman. Kalaupun suatu ketika harga BBM turun, beras murah, gaji guru tinggi, tetapi banjir tiap tahun selalu datang, atau bahkan gempa bumi seperti di Sumatra atau tsunami kembali terjadi, lalu kerusuhan terjadi di mana-mana, maka pastilah janji-janji kampanye mereka tak ada artinya. (80)



Wacana Suara Merdeka 3 Oktober 2009
—Dr -Ing Suhendra, peneliti lingkungan di BAM (Lembaga Penelitian Material Nasional Jerman), Berlin dan pegiat ISF (Indonesian Solidarity Foundation) Jerman