04 Desember 2009

» Home » Kompas » Gerakan Budaya yang Terlupakan

Gerakan Budaya yang Terlupakan

Kritik Kuntowijoyo (Muslim Tanpa Masjid) bahwa Muhammadiyah adalah gerakan budaya tanpa kebudayaan penting menjadi catatan abad keduanya.
Ini terlihat saat Muhammadiyah sekadar meniru Kiai Dahlan tanpa memahami gagasan dan etos gerakannya. Daya kreatif pembaruan bagi kemajuan dan kesejahteraan umat terperangkap birokrasi organisasi, gurita pendidikan dan rumah sakit sehingga terasing dari kehidupan rakyat. Hal serupa dihadapi bangsa ini saat praktik pendidikan nasional menjadi ritual dan kehilangan etos budaya kreatif.


Awalnya, gerakan ini sibuk memberdayakan fakir miskin melalui pendidikan, kesehatan, dan aksi sosial. Seperti tesis Max Weber tentang Etika Protestan dengan paradigma this worldly, aktivis gerakan ini memandang kesalehan surgawi bisa dicapai dengan memajukan dan menyejahterakan rakyat tertindas.
Tahun 1930-an lebih sebagai gerakan kelas menengah kota ketika purifikasi dipahami sebagai pembersihan Islam dari tradisi bermuatan virus TBC (takhayul, bidah, k(c)hurafat). Akibatnya, kian kehilangan nuansa budaya dan terasing dari dinamika kehidupan mayoritas penduduk.
Citra antitradisi secara keras memberantas TBC seperti Wahabi adalah episode generasi kedua sesudah Kiai Dahlan wafat Februari 1923. Posisi Kiai sebagai abdi dalem keraton, yang saat itu menjadi pusat tradisi dan ikon budaya rakyat, tidak mungkin melancarkan kritik dan memberantas tradisi secara terbuka.
Posisi Kiai itu lebih jelas dalam paparan GBPH Joyokusumo, adik Sultan Hamengku Buwono X pada Sidang Tanwir ’Aisyiyah 2002, tentang peran Hamengku Buwono VII dalam kelahiran Muhammadiyah. Rajalah yang memberangkatkan Kiai naik haji, mengganti nama Mohammad Darwis menjadi Ahmad Dahlan, mendorong Kiai terlibat dalam Budi Utomo. Problem yang dihadapi generasi pendiri bukan tradisi lokal, tetapi penolakan umat terhadap sistem pendidikan dan kesehatan modern, penerjemahan Al Quran ke bahasa Melayu atau Jawa, pembagian zakat, fitrah, dan korban kepada fakir miskin.
Tujuan didirikan Muhammadiyah: a. memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam..., b. memajukan dan menggembirakan cara kehidupan sepanjang kemauan agama Islam.... Kegiatannya meliputi: a. mendirikan dan memeliharakan atau membantu sekolah yang diberi pengajaran agama Islam, lain dari ilmu-ilmu yang biasa diajarkan di sekolah; b. mengadakan perkumpulan sekutu-sekutunya dan orang-orang yang suka datang; ...dibicarakan perkara-perkara agama Islam; c. mendirikan dan memeliharakan atau membantu tempat sembahyang..., yang dipakai melakukan agama buat orang banyak; dan d. menerbitkan serta membantu terbitnya kitab-kitab... sebaran... khotbah, surat kabar ...yang muat perkara ilmu agama Islam, ilmu ketertiban cara Islam dan iktikad cara Islam... tetapi sekali-kali tiada boleh menyalahi undang-undang Tanah di sini dan tiada boleh melanggar keamanan umum atau ketertiban.
Masa itu anggotanya menjadi: anggota biasa, kehormatan, dan donatur. Anggota biasa ialah semua orang Islam, kehormatan ialah yang berjasa besar pada Muhammadiyah, donatur ialah siapa saja tanpa memandang agama dan kebangsaan yang bersedia memberi bantuan.
Sasaran kegiatan Muhammadiyah masa generasi pendiri ialah mengubah cara pandang umat tentang kehidupan duniawi melalui pendidikan, dakwah, penerbitan, pendirian tempat ibadah, penerjemahan Al Quran, penerbitan buku, pelatihan dan pendidikan guru desa dan guru keliling, santunan kesehatan dan ekonomi bagi fakir-miskin. Zakat mal dan fitrah, korban dan infak dikelola secara modern bagi peningkatan taraf hidup rakyat kebanyakan sehingga berkemajuan dan sejahtera. Dengan sendirinya umat akan menanggalkan tradisi TBC diganti ilmu dan teknologi.
Pengelolaan rumah sakit melibatkan dokter-dokter Nasrani Belanda yang bekerja sukarela, sekolah dikelola secara modern guna meningkatkan taraf hidup dan berperan dalam dunia modern. Umat mulai menyadari manfaat bekerja sama dengan semua pihak tanpa melihat agama dan kebangsaan bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Citra gerakan berubah setelah Ahmad Dahlan wafat saat orientasi budaya digeser orientasi legal-formal. TBC diberantas dan bersamaan pembentukan lembaga tarjih tahun 1927. Nuansa budaya tergerus regulasi birokratis berbagai praktik ibadah dan amalan sosial.
Orientasi budaya bisa dibaca dari naskah Tali Pengikat Hidup Manusia, pidato Kiai dalam Kongres 1922 (Almanak Muhammadiyah 1923; lihat The Humanity of Human Life dalam Charles Kurzman Modernist Islam: A Sourcebook).
Bersediakah Muhammadiyah melakukan kritik budaya mengaktualkan kembali peran kreatif ijtihad membela duafa? Saatnya menjawab ”untuk siapa gerakan ini bekerja, untuk anggota atau bangsa dan kemanusiaan?”
Dari sini Muhammadiyah bisa berperan bagi kemajuan bangsa dan pemeliharaan martabat kemanusiaan universal.
Abdul Munir MulkhanGuru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Anggota Komnas HAM
Opini Kompas 4 Desember 2009