23 April 2010

» Home » Pikiran Rakyat » Presiden AS yang Bisa Bahasa Indonesia

Presiden AS yang Bisa Bahasa Indonesia

Oleh H. ROSIHAN ANWAR
SETELAH Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemeliharaan Kesehatan lolos di Kongres AS dan kemudian ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden AS Barack Obama, tiada alasan lagi menunda kunjungannya ke Indonesia yang sampai dua kali harus ditundanya. Pada Juni, insya Allah Presiden Obama beserta ibu negara, Michelle dan kedua putrinya akan berkunjung ke Indonesia.
Ketika Obama terpilih sebagai presiden, Kisore Mahbubani Dekan School of Lee Kuan Yew International Affairs di Singapura, menyambut peristiwa itu secara menarik dan orisinal. Sebab dia menyatakan kepada pers bahwa Obama adalah the first Bahasa Indonesia speaking American President (Presiden Amerika pertama yang berbicara bahasa Indonesia). Hal itu mempunyai arti dan pengaruh terhadap Asia Tenggara, katanya.
Kishore tidak menjelaskan dalam konteks apa penamaan tadi digunakannya. Tentu tidak dapat diartikan Obama masih bisa bicara lancar dalam bahasa Indonesia. Kemampuannya niscaya telah berkurang karena tidak ada kesempatan mempraktikkan ngomong bahasa Indonesia secara teratur di Amerika. 

Selain Said Duta Besar RI di Praha waktu di sebuah resepsi di Washington melihat Obama lewat di depannya dengan nyaring bertanya dalam bahasa Indonesia "Apa kabar, senator?" Reaksi serta-merta Obama ialah berbalik lalu menjawab, "Baik, terima kasih." Tanda dia masih paham sedikit-sedikit bahasa yang digunakannya waktu tinggal di Menteng Dalam di Jakarta sekitar empat puluh tahun yang silam.
Dalam wawancara singkat yang diberikan di Gedung Putih kepada wartawan televisi Putra Nababan dari RCTI kedengaran jelas Obama melafalkan dengan bagus kata-kata dan kalimat bahasa Indonesia. Ia ingat Jakarta dulu waktu cuma ada Hotel Indonesia dan Gedung Sarinah, tetapi kini Jakarta sudah berubah. Ia ingat makanan bakso, nasi goreng, dan orang penjaja makanan berteriak "sate". Ia mengaku, "Saya suka street food, makanan jalanan." Dari ceritanya dapat dipahami betapa besar kecintaannya kepada Indonesia negeri yang luas dan besar aneka ragamnya dan kepada rakyatnya yang banyak jumlahnya.
Petite histoire yang saya kemukakan tadi ingin menegaskan bahwa Presiden Barack Hussein Obama memiliki hal yang "spesial" terkait dengan Indonesia akibat perjalanan riwayat hidupnya. Maka, pantas kita sambut nanti Obama dengan baik dan hati terbuka sebagai tamu yang kita hormati.
Beberapa waktu yang lalu dalam masyarakat kita dikemukakan berbagai pendapat dan penilaian sekitar kunjungan Presiden Obama ke Indonesia. Sementara di stasiun televisi ditampilkan orang-orang yang dengan penuh semangat menolak kedatangan Obama disertai alasan-alasan kenapa. Pasti ada pihak yang bisa menerima kunjungan Obama dan siap menyambutnya dengan hangat. Akan tetapi, orang-orang begitu tidak muncul depan kamera stasiun televisi. Ada komentar dalam media cetak yang merinci hasil-hasil yang harus dicapai dalam pembicaraan antara Presiden Obama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bidang politik, ekonomi-perdagangan, kultural-pendidikan, pertahanan, bantuan memberikan pelatihan kepada tentara kita di lembaga-lembaga militer AS, semua itu disebutkan. Ada yang bilang beginilah, begitulah. Ada usul yang masuk akal, ada yang berkhayal semata-mata. Semua itu boleh saja. Maklum, kita di Indonesia sekarang hidup dalam sistem demokratis, kita bisa bebas mengeluarkan pendapat, ada yang anti, ada yang pro, terserah.
Namun, ada pula hal-hal yang patut kita indahkan. Yaitu pandai-pandailah kita mengukur badan, jangan terpesona oleh label yang diberikan orang "negara demokrasi nomor tiga di dunia". Kita pahami secara wajar keterangan "Indonesia adalah negeri berpenduduk Muslim terbesar". Tidak perlu hal itu membuat bersikap bangga berlebih-lebihan. Jangan mudah kita memajukan diri "sebagai calon potensial untuk menyelesaikan masalah Palestina-Israel" sebab sikap itu berarti "mencari penyakit sendiri". Waktu enam puluh tahun sudah diusahakan menyelesaikan masalah Palestina-Israel, toh belum tampak cahaya terang menuju perdamaian. Hanya Amerika Serikat yang bisa menyelesaikan masalah itu, tetapi kaki dan tangan AS terikat keras oleh pengaruh lobi warga Amerika keturunan Yahudi yang sangat kuat. Biarkan Amerika, Israel, Palestina, Mesir, Arab Saudi, Iran dan sebagainya berusaha dulu membereskan masalah yang sangat rumit itu.
Adalah lebih baik dan sesuai dengan realitas, apabila kita bangsa Indonesia tahu diri, sadar kemampuan sendiri dan bekerja membenahi keadaan diri kita, supaya lenyap cacat yang melekat seperti "Indonesia negara paling korup di dunia" dan agar orang luar menaruh respek terhadap Indonesia.
Bersikap tenang-tenang sajalah, tak usah jual tampang di talkshow, kemudian nanti bulan Juni mari kita berkata, "Please welcome the first Bahasa Indonesia speaking American President, Barack Hussein Obama." ***
Penulis, wartawan senior.
Opini Pikiran Rakyat 24 April 2010