14 Februari 2010

» Home » Suara Merdeka » Tetap Eksis Lewati Badai

Tetap Eksis Lewati Badai

TATKALA Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memperingati HUT ke-62, 9 Februari 2008 di Semarang, saya hadir.Tepatlah bila Surat Kabar Suara Merdeka mengambil tempat sentral dalam perayaan itu, mengingat posisinya sebagai surat kabar tertua dan terkemuka di Jawa Tengah. Pemimpin Umum Ir H Budi Santoso bertindak sebagai tuan rumah yang baik. Penampilannya memancarkan aura kepuasan insan yang sukses dalam karier.


Seorang pemuda mewakili Suara Merdeka maju ke mimbar. Saya tidak tahu namanya. Seseorang membisikkan, itu cucu Hetami. Saya tanya pada Budi. Dia mengangguk. Wajahnya cerah memandang sang putra yang berdiri di mimbar. Budi juga bergerak di bidang politik. Dia senator, artinya anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dia sudah bisa mendelegasikan sebagian besar pekerjaan di Suara Merdeka kepada sang putra. Dia tidak melulu terikat lagi dengan dunia koran.

Malam itu, saya terkesan oleh kenyataan bahwa Suara Merdeka, yang pada 11 Februari 2010 merayakan HUT ke-60, termasuk koran yang telah selamat melintasi badai perkembangan dalam sejarah Republik Indonesia. Suara Merdeka masih ada, masih eksis. Menurut bahasa keren, gagah, dan masih tetap bersifat family-newspaper, dalam makna koran yang dimiliki sebuah keluarga, yaitu keluarga besar Hetami. Gejala itu unik dan luar biasa. Sebab, surat kabar yang sejenis itu sudah langka.

Surat Kabar Surabaya Post yang didirikan pasangan wartawan suami-istri Abdul Azis dan Toeti Azis merupakan koran keluarga yang ternama. Setelah Azis dan Toeti meninggal dunia, koran mereka tenggelam karena tidak ada generasi kedua yang melanjutkan. Surabaya Post masih terbit, tetapi sang pemilik sudah orang-orang lain.
Terbit Terus Di Medan ada Surat Kabar Waspada yang diterbitkan suami-istri Mohammad Said dan Ani Idrus awal 1948. Setelah para pendiri meninggal dunia, koran itu dapat terbit terus sebagai koran keluarga karena putra-putri Said mampu mengelola manajemen dan editorial. Waspada tetap prominen di Sumatra Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebagai koran yang cukup profesional dari sudut jurnalistik.

Dewasa ini kebanyakan surat kabar di Indonesia tidak lagi milik tunggal suatu keluarga, tetapi saham-sahamnya dipegang berbagai kepentingan ekonomi, dimiliki oleh perusahaan pribumi dan nonpribumi yang bekerja untuk mencari laba. Pers Indonesia umumnya telah menjelma sebagai pers industri, pers kapitalis, sesuai dengan perkembangan dan pertanda zaman.

Pers keluarga yang berpegang pada idealisme seperti pada zaman pergerakan nasional melawan penjajahan Belanda atau pada zaman perang kemerdekaan, yang memelihara dan menegakkan tradisi wartawan Indonesia secara etik dan moral sebagai pembela rakyat yang ditindas dan dizalimi, praktis sudah mboten wonten, tidak ada lagi.
Tetap Eksis Dari catatan singkat sejarah itu dapatlah disimpulkan, Suara Merdeka benar-benar termasuk surat kabar yang beruntung, punya hoki, tetap eksis sebagai family-newspaper yang dimiliki keluarga besar Hetami dan yang mempunyai masa depan menjanjikan.

Hal itu berbeda dari koran-koran pada zamannya dari dasawarsa 1950-an yang semua sudah mati, tinggal nama, yang itu pun telah dilupakan. Lihatlah yang dialami koran seperti Merdeka (pimpinan BM Diah), Indonesia Raya (Mochtar Lubis), Pedoman (Rosihan Anwar), Abadi (Suardi Tasrif).

Dapat dimengerti ketika cucu Hetami naik ke mimbar pada malam perayaan HUT Ke-62 PWI, saya lalu teringat Hetami (1920-1986). Saya jumpa kali pertama dengan dia pada zaman pendudukan Jepang, tatkala dia wartawan Sinar Baru di Semarang dan saya bekerja di Asia Raja, Jakarta.

Tahun itu, pemerintah bala tentara Dai Nippon di Jawa (Gunseikanbu) menyelenggarakan latihan untuk wartawan muda dari seluruh Jawa. Mereka diasramakan di Jalan Padangpanjang, Manggarai, Jakarta. Selama hampir satu bulan mereka mendengarkan ceramah dari pemimpin-pemimpin nasionalis seperti Soekarno, Hatta, Mohammad Yamin, dan para pejabat Jepang tentang upaya memenangi Perang Asia Timur Raya (Dai Tooa Sneso). Mereka juga diberi latihan kemiliteran seperti menembak dengan bedil laras panjang.

Saat itulah saya berkenalan dengan Hetami. Di antara peserta lain ada Dayat Hardjakusuma dari Domei Bandung (ayah penyanyi Bimbo Grup), Pramono dari Sinar Matahari Yogya, Syaiful dari Sendenbu (Penerangan Jepang), dan lain-lain. Saya dengar Hetami putra seorang saudagar batik di Solo, KHM Idris yang masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) dengan pangkat daidancho (komandan batalion). Hetami adalah mahasiswa putus sekolah dari Fakultas Sastra dan Filsafat di Batavia.

Setelah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949 dari Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia Serikat (RIS), saya dengar Hetami di Semarang menerbitkan surat kabar Suara Merdeka pada 11 Februari 1950. Hetami orang yang moderat, tidak suka ”bikin musuh”, bekerja tekun untuk menjadikan korannya terus terbit, dan akhirnya berhasil dengan gemilang. Suara Merdeka, alhamdulillah, mencapai usia 60 tahun dan dipimpin oleh generasi ketiga. Kenang, kenanglah Hetami, pendiri Suara Merdeka. (10)

— H Rosihan Anwar, wartawan senior
Wacana Suara Merdeka 11 Februari 2010