14 Februari 2010

» Home » Media Indonesia » Assessment Centre Siswa Berbakat

Assessment Centre Siswa Berbakat

Setiap zaman menyertakan tantangan dan peluang yang berbeda-beda. Era knowledge-based economy di abad ke 21 ini menyebabkan masyarakat belajar menghadapi tantangan dan sekaligus peluang baru. Perubahan lingkungan baik internal maupun eksternal menuntut bangsa ini semakin memosisikan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas pada peran sentral dan strategis. Program pengembangan SDM di berbagai lini dan tingkatan, sebagai salah satu sarana knowledge management, diharapkan dapat menghasilkan SDM yang memiliki kompetensi tinggi untuk mendukung kinerja bangsa agar memiliki daya saing global.


Namun, di antara yang ganjil dari bangsa ini adalah memiliki potensi luar biasa tetapi mengalami 'keterbelakangan' dalam berbagai bidang. Hampir delapan windu Indonesia merdeka, tetapi Republik ini belum kunjung berhasil mewujudkan cita-cita menjadi bangsa besar yang bersatu, sejahtera, bermartabat, terbebas dari pasungan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakjujuran. Diperlukan peran lebih besar dari perguruan tinggi untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Pendidikan tinggi (PT), sebagai tempat persemaian kader-kader bangsa kelas satu, semestinya terpanggil untuk menjadi bagian dari upaya besar bangsa ini untuk keluar dari keterpurukan. Pola pengelolaan PT dengan cara konvensional sudah terbukti gagal melaksanakan fungsinya sebagai bagian dari solusi bagi persoalan bangsa. Diperlukan pendekatan baru, agar seluruh sivitas akademika PT merasa terpanggil dan memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar ketika melihat dinamika persoalan kebangsaan dan kemanusiaan yang tidak kunjung terselesaikan, sebagai ekspresi pemenuhan tugas kekhalifahan di muka bumi.

Pengembangan SDM merupakan tanggung jawab semua pihak yang terkait, tetapi perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penentu bagi keberhasilan proses pendidikan yang berdaya saing tinggi itu. Oleh karena itu, upaya memberdayakan SDM yang memiliki kecerdasan dan bakat istimewa dibutuhkan untuk menjamin hasil kinerja yang optimal. Dewasa ini banyak digunakan assessment centre sebagai salah satu metode pengembangan SDM berbasis kompetensi. Assessment centre terbukti memiliki keunggulan dalam mengidentifikasi dan mengembangkan siswa berbakat menuju kinerja puncak masing-masing.

Pengelolaan assessment centre

Paradigma penanganan human capital dengan melakukan penajaman fungsi assessment centre sebagai unit pengelolaan dan pembinaan sumber daya manusia dengan bakat istimewa adalah suatu keniscayaan. Hasil penajaman fungsi itu diharapkan melahirkan mekanisme kerja dan desain struktur peningkatan manajemen SDM berupa pembangunan assessment centre yang kuat di perguruan tinggi, khususnya yang memiliki fakultas psikologi. Kolaborasi di antara mereka guna membentuk pusat riset dan pengembangan bersama untuk menangani anak-anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa di republik tercinta ini sangatlah diperlukan.

Di dunia manajemen, assessment centre adalah serangkaian tes simulasi kinerja yang dirancang untuk mengevaluasi potensi kandidat secara komprehensif. Proses assessment centre sering kali dilakukan dengan simulasi mengenai problematik riil yang akan dihadapi di tempat kerja. Aktivitas-aktivitas dalam assessment centre biasanya mencakup interviu, in basket problem solving, leaderless group discussion dan business decision games. Tujuan assessment centre di sini adalah untuk a) mengidentifikasi orang yang cocok untuk suatu jenis dan tingkat pekerjaan; b) menentukan kebutuhan pelatihan dan pengembangan; dan c) mencari orang yang akan dipromosikan pada jabatan atau pekerjaan tertentu (Rivai dan Basri, 2005).

Penguatan assessment centre di perguruan tinggi dimaksudkan untuk memperoleh informasi profil kompetensi setiap anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa, dalam rangka optimalisasi pengembangan kompetensi yang bersangkutan. Permasalahan yang sering dihadapi dalam menilai, mengukur, dan mengembangkan potensi siswa dengan kecerdasan dan bakat istimewa adalah bagaimana melakukan penilaian yang objektif, valid, dan reliabel. Untuk itu, diperlukan sistem penilaian dan pengukuran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan multidisipliner, bervariasi, dan bebas dari bias personal. Di samping itu, masalah dan kendala yang acap kali terjadi setelah penilaian adalah melakukan pengembangan yang sesuai dengan tuntutan kompetensi.

Dengan demikian, penilaian untuk identifikasi dan pengembangan sebaiknya tidak hanya mengandalkan pada satu rangkaian (battery) yang bersifat konvensional seperti interviu, psikotes, atau tes bakat, tetapi suatu sistem yang terintegrasi untuk identifikasi dan pengembangan. Diharapkan, ke depan, assessment centre ini dapat menjadi salah satu model penilaian dan pengembangan yang terintegrasi dan berorientasi masa depan. Sebuah unit yang dapat diandalkan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengembangkan siswa yang memiliki potensi istimewa.

Proses pengumpulan profil kompetensi anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui (1) interviu, dengan pertanyaan-pertanyaan yang terstruktur atau tidak terstruktur; (2) portofolio, kumpulan hasil kerja siswa seperti rekaman, foto, risalah, log book; (3) proyek/produk, penugasan proyek dan produk dengan batasan waktu dan sumber daya; (4) demonstrasi/presentasi, siswa menunjukkan kinerja melalui demonstrasi atau presentasi; (5) observasi informal, penilai mengamati langsung kinerja siswa di lokasi; (6) self assessment, siswa menggunakan standar pertanyaan dalam sumber belajar untuk menilai diri sendiri; (7) computer assessment, penilaian diri melalui program komputer; (8) checklists, penilai memeriksa apa yang dikerjakan atau dibuat oleh siswa; (9) paper and paper tests, siswa menjawab serangkaian pertanyaan, (10) individual/group works, siswa melakukan tugas kerja secara individual atau kelompok.

Dalam menentukan profil kompetensi siswa, perlu dilakukan penilaian setidaknya terhadap tiga aspek, yaitu kompetensi umum, kompetensi inti dan kompetensi khusus. Sebagai tindak lanjut dari hasil assessment centre, perguruan tinggi hendaknya melaksanakan serangkaian pendidikan dan pelatihan khusus untuk meningkatkan level kompetensi siswa agar sesuai dengan tuntutan profesionalitas masing-masing di masa depan. Data-data terkait dengan informasi profil kompetensi siswa dengan kecerdasan dan bakat istimewa ini, segala prestasi yang diraih dan pendidikan serta pelatihan khusus yang telah diikutinya dirangkum dalam suatu sistem informasi manajemen anak CI-BI nasional (simacibin), sebuah jaringan informasi multiuser yang bisa diakses di seluruh Indonesia. Informasi yang terekam dalam simacibin ini menjadi landasan dalam melakukan kebijakan secara lokal dan nasional dalam memberi pelayanan dan optimalisasi pengembangan aset bangsa yang luar biasa ini.

Optimalisasi pengembangan diri

Ke depan, diperlukan lebih banyak pribadi yang akuntabel. Banyak orang lebih suka menjelaskan apa yang dikerjakannya dari pada benar-benar mengerjakannya hingga berhasil. Pribadi akuntabel adalah pribadi yang berani memutuskan dan mengambil tanggung jawab 100% atas pekerjaan dan komitmennya. Gemar introspeksi dan melakukan autokritik daripada menyalahkan orang lain. Tidak sedikit orang puas dengan cara lama yang selama ini dijalani. Jika itu yang dilakukan, dipastikan kita akan gagal mengembangkan diri secara optimal. Sebaliknya, manakala kita memiliki sikap benar-benar terbuka, truly open to learning, insya Allah kita akan selalu dikejutkan oleh anugerah perubahan yang menggairahkan. Untuk maksud inilah sebenarnya assessment centre dibutuhkan oleh perguruan tinggi kita.

Dengan bantuan assessment centre yang baik, siswa akan sangat terbantu dalam pengembangan diri secara lebih terstruktur, mampu belajar untuk menggunakan kecerdasan multidimensional dan intuisi yang dimiliki di manapun mereka berada. Pengembangan diri siswa secara utuh, terstruktur, sistematis, dan benar karena bantuan alat ukur yang dikembangkan oleh assessment centre dapat mengantarkan siswa menjadi manusia otentik, manusia yang di dalam alam pikirnya sudah tidak ada lagi segala bentuk pola pikir yang menghukum dan menghambat laju pertumbuhan potensi diri sesuai dengan misi hidupnya. Apabila hal demikian terjadi, pemiliknya akan melesat bak meteor. Pribadi autentik senantiasa bergembira ketika mengerjakan apa pun, tidak banyak mengeluh, menyalahkan orang lain, atau berlagak menjadi hero. Karena itu, langsung atau tidak langsung, peri kehidupannya dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Oleh Khoiruddin Bashori Pengamat dan Psikolog Pendidikan, tinggal di Yogyakarta
Opini Media Indonesia 15 Februari 2010