14 Februari 2010

» Home » Solo Pos » Pelajaran pluralisme dari Cheng Ho

Pelajaran pluralisme dari Cheng Ho

Dalam pelajaran sejarah, kita mengenal Jan Pieterson Coon dan Daendels. Mereka adalah orang dari benua Eropa yang pernah datang ke Indonesia dengan misi mencari negara jajahan untuk kejayaan dan memeras kakayaan alam Indonesia untuk kemakmuran negaranya.

Indonesia memang negara yang kaya akan sumber alam dan pertanian yang membuat negara lain tergiur untuk menjajahnya. Selain itu secara geografis merupakan kawasan yang strategis dilihat dari segala kepentingan.



Tetapi Laksamana Cheng Ho dari China yang juga datang ke Indonesia, menurut catatan sejarah bukan untuk merampas kekayaan atau ingin menjajah negeri ini dan menjadikannya di bawah kekuasaan China. Laksamana Cheng Ho datang dengan maksud membuka hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia, dan yang utama untuk menyebarkan agama Islam.

Laksamana Cheng Ho memimpin pelayaran yang spektakuler pada zaman itu dengan armada yang sangat besar (300 buah Kapal dan 28.000 awak kapal) dan melakukan tujuh kali muhibah bahari sampai ke benua Afrika.

Bahkan dinyatakan telah mendarat di benua Amerika 87 tahun sebelum Columbus (menurut buku 1421 karya mantan Kapten AL Gavin Menzies dari Inggris) dan mengunjungi lebih 30 negara di tanah Melayu, Asia Selatan dan Timur Tengah. Pelayaran Laksamana Cheng Ho jauh melampaui para pengembara mana pun di Eropa seperti Chistopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Francis Dranke dan lain-lain.

Tidak hanya perjalanan muhibah yang membawa misi perdamaian dan diplomasi China, Laksamana Cheng Ho dan armadanya diyakini juga menyebarkan Islam pertama di Tanah Melayu, Sumatra dan Jawa. Laksamana Cheng Ho datang ke Bumi Nusantara dengan tujuan menjalin silahturahmi dan persahabatan.

Dia datang tidak dengan membawa senjata. Dia datang dengan membawa iman. Dengan misi yang mulia itu, tentunya akan berlanjut dengan hubungan perdagangan dan hubungan lain yang bersifat kebersamaan serta menguntungkan kedua pihak.

Ketika datang, bukan letupan senjata yang terdengar, tetapi sambutan gegap gempita dari masyarakat pesisir. Hubungan baik itu ditunjukkan dalam sejarah, betapa harmonisnya hubungan negeri China dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia, seperti kerajaan Majapahit.

Bahkan putri Campa telah dipersunting Raja Majapahit, dimana Raden Patah (Raja Demak pertama), Sunan Ampel dan Sunan Giri (Walisongo) adalah garis keturunannya. Hubungan antarbangsa akhirnya membuahkan hubungan persaudaraan yang begitu akrab.

Tetapi sebenarnya lebih dari itu. Muhibah Laksamana Cheng Ho ke Indonesia itu meninggalkan tafsir mendalam, yaitu betapa tinggi nilai persahabatan dan silaturahmi.

Monumen

Memang begitu mengesankan kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia, bahkan sampai sekarang rasa hormat padanya sangat tinggi. Penghormatan yang tinggi itu diwujudkan dalam bentuk pembangunan monumen dan prasasti yang tidak hanya dibangun di satu tempat, tetapi juga ada di tempat napak tilasnya. Seperti pembangunan Museum Cheng Ho di dalam kompleks Taman Budaya Tionghoa Indonesia, TMII, Jakarta.

Bahkan beberapa kota seperti Surabaya, Palembang, dan Kabupaten Pasuruan telah memiliki masjid yang berarsitektur China atau mirip kelenteng yang kebanyakan diberi nama masjid Cheng Ho. Masjid tersebut bukan saja milik masyarakat Tionghoa atau masyarakat muslim saja, tetapi untuk seluruh masyarakat pada umumnya. Bahkan keberadaannya menjadi objek wisata religi bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Perpaduan unsur kebudayaan Islam dan China sangat terlihat pada arsitektur dan interior Masjid Cheng Ho di Surabaya. Secara keseluruhan, Masjid Cheng Ho berukuran 21x11 meter dengan bangunan utama 11x9 meter dan pada setiap bagian bangunannya memiliki arti tersendiri.

Misalnya 11 meter panjang bangunan utama diartikan bahwa Kakbah pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter. Sedangkan 9 meter diambil dari keberadaan Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

Arsitekturnya yang menyerupai kelenteng adalah untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim China di Indonesia dan mengenang leluhur warga China yang mayoritas beragama Budha. Selain itu pada bagian atas bangunan utamany berbentuk segi delapan atau pat kwa. Angka delapan dalam bahasa China disebut fat yang berarti kejayaan dan keberuntungan.

Pada ruangan bagian depan yang dipergunakan untuk imam, sengaja dibentuk seperti pintu gereja. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima kitab Injil bagi umat Nasrani. Juga menunjukkan bahwa Islam mencintai hidup damai, saling menghormati, dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain.

Pelajaran yang bisa diambil dari Laksamana Cheng Ho adalah meski ada perbedaan etnis tetapi kesatuan iman akan membuahkan hasil yang bermanfaat. Kita tidak perlu lagi menjadikan diri kita sebagai sosok atau kelompok eksklusif, tetapi kita bisa bermasyarakat dan selalu bersilahturahmi seperti yang dilakukan Laksamana Cheng Ho.

Laksamana Cheng Ho telah memberikan teladan kepada kita, baik pribadi ataupun kelompok. Jangan merasa diri kita ”paling”, karena Allah adalah yang paling segalannya. Di mata Allah kita sebagai umat-Nya adalah sama. Laksamana Cheng Ho adalah sosok yang mengagumkan dan telah memberikan contoh kebaikan pada kita.

Kita harus mampu mengikuti keteladanannya. Dan keteladanan tersebut harus diresapi dengan mendalam. Dia orang China muslim, tapi mampu menempatkan diri di Indonesia sehingga diterima oleh semua golongan orang Indoensia. Sehingga sudah tidak sepantasnya ada pertanyaan tentang jati diri agama yang dikaitkan dengan latar belakang etnis dan sekat-sekat budaya lainnya. - Oleh : Muhammad Aslam Aktivis Forum Kajian Pendidikan dan Budaya “Canthing”

Opini Solo Pos 15 Februari 2010