02 Mei 2010

» Home » Suara Merdeka » Menenun Rupiah dari Sarung Goyor

Menenun Rupiah dari Sarung Goyor

KERAJINAN tenun ikat produk alat tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Wanarejan Utara Kecaman Taman Kabupaten Pemalang sudah ada sejak 1930-an. Namun karena kondisi keamanan, kerajinan ini belum mengalami kemajuan yang berarti. Baru pada 1950-an kerajinan ini mulai banyak diproduksi oleh masyarakat sebagai home industry dan lama- kelamaan berkembang menjadi sentra dinamis.

Produksi pada saat itu hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, seiring berjalannya waktu produksinya dapat diterima konsumen di daerah lainnya.

Produk utama yang dihasilkan pada sentra ini adalah sarung kembang atau sering disebut sebagi sarung goyor/ byur. Penyebutan ini berkaitan dengan proses produksi yang dilakukan, yaitu sebelum benang ditenun terlebih dahulu diikat, sehingga benang yang tidak diikat terkena warna sesuai dengan desain dan pola yang dikehendaki. Pola atau gambar yang digunakan bermotif bunga (kembang) dengan susunan tetris atau berbalok-balok.


Alat produksi menggunakan tenun tradisional (ATBM) yang sering disebut dengan tenun tok-klek (karena bunyi-bunyian yang dihasilkan). Bahan bakunya benang rayon dari China dan India dengan ketebalan 60/2 dan 40/2. Menurut HM Syukron yang menjabat kepala desa sekaligus perajin, di Wanarejan Utara saat ini ada 178 perajin dengan 1.035 ATBM dan menyerap 2.634 tenaga kerja. Kondisi ini masih jauh dibandingkan pada masa kejayaan yaitu tahun 1995 - 1999, di mana ATBM yang beroperasi mencapai angka dua kali lipat.
Proses produksi tergolong unik dan rumit, dimulai dari proses penyiapan dan pewarnaan benang untuk ditenun sampai sarung siap dijual.

Proses lusi yaitu benang tenun yang berfungsi sebagai penyangga (vertikal) dikerjakan melalui 5 tahapan, sedangkan proses pakan yaitu benang tenun yang membujur (horizontal) melalui 12 tahapan. Setelah itu benang ditenun (1 tahapan) untuk membentuk kain, pengerjaan dari kain tenun sampai dengan sarung goyor siap dipasarkan melalui 7 tahapan. Secara keseluruhan sarung dikerjakan melalui 25 tahapan, jika 1 proses produksi dikerjakan 1 orang dengan ATBM 1.035 unit, maka sentra ini minimal membutuhkan 25.875 orang, sebagai angka yang luar biasa bagi pemerintah dalam upaya mengurangi jumlah pengangguran.

Sarung goyor juga sangat menguntungkan perajin, dengan benang 60/2 R (lusi) seharga Rp 300.000/ pack (menghasilkan 25 sarung) dan benang 40/2 R (pakan) seharga Rp 225.000/ pack (18 sarung), di mana HPP untuk membuat sarung goyor Rp 90.000/  sarung, dengan harga jual disesuaikan dengan kualitas produk.

Sangat Diminati

Terdapat empat jenis kualitas yaitu kasaran, manis, halusan TNS, dan halusan TS dengan harga jual antara Rp 100.000 dan  Rp. 140.000/ lembar. Nilai keuntungan yang tinggi ini membuat Desa Wanarejan Utara mempunyai tingkat pendapatan lebih baik dibandingkan desa lain di sekitarnya, sehingga sentra ini berkembang ke desa lainnya, seperti Desa Wanarejan Selatan, Banjaran, Pedurungan, Beji, Serang, Comal, Padek, dan Pelutan.

Tingkat kenyamanan sarung goyor saat dikenakan (pada cuaca panas terasa sejuk digunakan dan cuaca dingin hangat untuk dikenakan) sangat diminati konsumen, di samping keunggulan lainya seperti lentur, tidak kusut, tidak mudah robek, tenunan yang halus (kerapatan 1.500 helai benang lusi) dan warnanya yang tidak mudah luntur.

Pemasaran sarung goyor meliputi pasar lokal (Pemalang, Pekalongan, Tegal, Cirebon, Solo, dan Semarang), diluar daerah (Jakarta, Bali, Aceh, Riau, Jambi, dan Kalimantan) dan luar negeri (Abu Dhabi, Somalia, Tunisia, Yaman, Arab Saudi, Nigeria, Uni Emirat Arab, India, Malaysia, dan Brunei). Selama ini perajin di Wanarejan Utara tidak dapat memenuhi permintaan pasar dikarenakan keterbatasan modal.

Estimasi kebutuhan modal sentra (sarung goyor) ini Rp 30 miliar diproyeksikan tingkat B/C ratio 1,55 kali, IRR 119%, NPV Rp 48 miliar, BEP (penjualan) 40,47% dan pay back period selama 2,64 tahun. Investasi ini dapat mengembangkan jumlah ATBM menjadi 2.035 unit dengan kapasitas 915.750 sarung per tahunnya dan penyerapan 50.875 tenaga kerja. Mengingat besarnya multiplier effect pada sentra ini, maka sejak 1996 mendapat prioritas pengembangan dari pemkab dengan ditetapkan sebagai salah satu produk unggulan daerah. (10)

— Teguh Setiawan SE MM, Direktur Raditya Consultant (konsultan manajemen bisnis dan perekonomian) Pemalang


Wacana Suara merdeka 3 Mei 2010