30 Oktober 2009

» Home » Okezone » Haji dan Inklusivisme Islam

Haji dan Inklusivisme Islam

EORANG muslimah pejuang keadilan gender berkesempatan pergi haji. Banyak pengalaman yang mengesankan dan menarik diceritakan.

Salah satunya adalah dia kaget melihat suasana yang egaliter dan membaur antara laki-laki dan perempuan di MasjidHaram, Mekkah. Maklum, gambaran yang berkembang, terutama di Barat, Islam itu mengungkung wanita dan itu ada benarnya jika melihat realitas sosial di lingkungan Arab Saudi.
Namun dia menjadi kaget dan termenung, bukankah Masjid Haram merupakan pusat Islam? Bukankah di sini, di sekitar Kakbah ini, nilai-nilai dasar Islam dipraktikkan? Dia mengamati hal-hal yang tampaknya sepele, tetapi baginya sangat mendasar. Ketika di masjid, posisi laki-laki dan perempuan sama untuk mengakses ke Kakbah. Posisi depan dan belakang menjadi hilang karena formasinya melingkar.

Ketika tawaf, laki-laki dan perempuan juga berbaur. Ini kontradiksi dengan tradisi sebagian kawan kita yang memisahkan laki-laki dan perempuan ketika menghadiri pesta perkawinan. Di masjid Mekkah saja boleh, apa alasannya kalau suami-istri mesti dipisahkan ketika menghadiri resepsi? Coba saja perhatikan ketika mereka tengah tawaf atau ingin mencium hajar aswad dan mendekat pada dinding Kakbah, semua memiliki hak yang sama.

Semakin dekat dengan Kakbah yang merupakan pengikat dan simbol tauhid, umat Islam, entah laki-laki atau perempuan, terlepas dari mazhab, partai politik, dan kebangsaan mereka, semuanya rukun dan memiliki hak yang sama untuk mendekati Tuhan. Ibarat roda, Kakbah adalah poros pusat yang mempertemukan jeruji. Semakin ke pusat, semakin dekat ruji-ruji itu.

Namun semakin bergerak ke luar, jarak ruji-ruji semakin jauh. Begitulah kondisi psikologis umat Islam.Ketika mereka berada di Masjid Haram mendekat ke Kakbah, perbedaan dan permusuhan lenyap. Artinya, semakin seseorang mendekat pada Allah, semakin kuat imannya, mestinya semakin solid dan kokoh persaudaraannya. Siapa pun yang pernah berhaji tahu dan mengalami, sekalipun jumlah jamaah mencapai sejuta lebih, petugas keamanannya sangat sedikit dibandingkan pertemuan dunia lain, misalnya olimpiade.

Mengapa? Karena mereka lebih takut kepada Allah ketimbang kepada petugas keamanan kalau membuat onar, pertengkaran, dan lebih-lebih perkelahian. Allah berfirman, siapa yang bertengkar dan berbuat dosa, maka hajinya batal. Hanya satu baris firman Allah sudah mampu mengendalikan perilaku sejuta lebih jamaah haji. Saya membayangkan, andaikan ketaatan kepada Allah yang terjadi sewaktu haji juga dibawa pulang ke Tanah Air, betapa maju dan damainya Indonesia ini.

Tak akan ada korupsi dan perkelahian karena keduanya dimurkai Allah. Itulah yang dimaksud dengan menggapai maqam Ibrahim dari ibadah haji, yaitu tekad dan ketundukan total kepada Allah yang dilambangkan dengan kesediaan menyembelih putra kandungnya. Suatu ujian yang amat sangat berat, tetapi Ibrahim lulus.

Beda dari suasana Madinah yang lebih melambangkan peradaban Islam dengan kemegahan Masjid Nabawi dan sejarah perjuangan para sahabat, di Mekkah yang menonjol adalah individu lebur dalam gelombang kemanusiaan, aku hilang ke dalam kami dan kita. Semua mengenakan pakaian ihram sehingga keakuan bermetamorfosis menjadi kekitaan.

Lebih dari itu, pusat Mekkah adalah Kakbah yang tidak tertutup atap sehingga langsung menyambung dengan langit. Ini juga mengondisikan seseorang merasakan kesatuan dengan semesta yang setiap saat juga bertawaf, berputar mengikuti garis edarnya yang telah digariskan Tuhan. Masjid Haram di Mekkah selama 24 jam terbuka dan selama itu pula ritual tawaf tak pernah berhenti.

Asma Allah dan Rasul Muhammad senantiasa terucap dan memasuki orbit semesta. Olah karenanya tak ada sosok sejarah yang namanya paling banyak disebut dan didoakan kecuali Muhammad. Tak ada bandingannya dalam sejarah manusia. Bangunan Kakbah yang berbentuk kubus sangat sederhana, di dalamnya tidak ada apa-apa, tetapi di dalam kesederhanaannya itulah terdapat keagungan dan kemuliaan.

Orang akan kecewa kalau ingin melihat kemegahan bangunan Kakbah karena kemegahan dan keagungan letaknya bukan di sana, melainkan dalam hati dan pribadi setiap muslim yang berziarah ke baitullah itu. Dalam kekosongan itulah yang diharapkan mengisi hanyalah tauhid, kerinduan dan kecintaan kepada Allah.

Sayang sekali, kesederhanaan, keagungan, dan suasana spiritual di sekeliling Kakbah yang berada di dalam Masjid Haram itu terganggu oleh hotel-hotel megah di sekitarnya yang tingginya jauh melebihi bangunan masjid. Bahkan nama-nama hotel itu juga terkesan sangat berbau Barat sehingga menimbulkan interupsi kultural psikologis. Ketika jumlah penduduk muslim di dunia semakin meningkat, peminat untuk berhaji juga ikut meningkat.

Namun sangat disayangkan pembangunan sarana serta pengaturan bagi tamu-tamu Allah tidak seimbang sehingga setiap tahun mesti muncul problem dan keluhan dari jamaah haji. Bagi Pemerintah Indonesia, ini akan menimbulkan masalah tersendiri mengingat jumlah haji Indonesia paling banyak, sementara masyarakat kita pemakan nasi, bukan roti, sehingga cukup merepotkan.

Sampai kapan pun kalau Pemerintah Arab Saudi tidak melakukan perbaikan manajemen dan sarana haji secara rasional dan memadai, persoalan penyelenggaraan haji akan selalu muncul, siapa pun yang menjadi menteri agama. Kembali pada judul di atas, mestinya suasana persaudaraan, toleransi, kelapangan, kesucian, dan kesederhanaan yang diraih di Mekkah dibawa pulang ke Tanah Air mengingat pesan dan adegan haji itu secara substansial pada hakikatnya adalah dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Air. Entah itu pesan tawaf, wuquf, sa'i, melempar jumrah, kesemuanya itu yang paling berat bukannya dilakukan di tanah Arab, melainkan di Tanah Air. (*)

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT
Rektor UIN Syarif Hidayatullah
Opini Okezone 30 Oktober 2009