25 Mei 2010

» Home » Solo Pos » Urgeni reorientasi gerakan mahasiswa

Urgeni reorientasi gerakan mahasiswa

Bulan Mei bermakna khusus bagi gerakan mahasiswa.

Pada Mei 1998 silam gerakan mahasiswa berperan besar meruntuhkan kekuasaan Orde Baru di bawah Soeharto. Mahasiswa adalah kaum intelektual yang selalu ada dan berperan aktif dalam setiap perubahan sosial politik di negeri ini. Setiap momentum tersebut selalu memakan ”korban” atas nama tuntutan perubahan yang diteriakkan mahasiswa. Untuk sebuah perubahan kenapa harus dengan ”perang jalanan”? Apakah keadaan sudah berubah menjadi lebih baik atau malah sebaliknya? Mungkin butuh reorientasi gerakan mahasiswa.

Sebuah gerakan haruslah berdialog dengan zaman, kondisi serta situasi. Jangan sampai gerakan yang dibangun justru menjauhkan dari perubahan yang diharapkan. Perumusan gerakan harus dikomunikasikan dengan realitas sosial yang ada. Kalaupun harus sampai turun ke jalan, berdemonstrasi, maka hal tersebut bukan dijadikan sebagai tradisi tetapi pemaknaannya adalah sebagai sebuah langkah strategis dari desain perjuangan jangka panjang. Sayangnya, sering kali aksi jalanan mahasiswa tidak mampu menembus desain jangka panjang tersebut.

Sekarang kita hidup di era globalisasi. Batas-batas antarnegara menjadi bias dan masyarakat tergiring dalam standardisasi global, entah dalam hal ekonomi atau pendidikan. Untuk hidup di era pasar ini, maka kitapun harus mampu berproduksi sesuai standar pasar yang bergerak. Masalahnya apakah mahasiswa siap dengan ini? Setidaknya ada empat dimensi yang harus dipikirkan oleh mahasiswa jika tak ingin dikategorikan sebagi generasi ”layak punah” karena tidak bisa masuk pada standar hidup global. Keempat hal tersebut adalah dimensi spiritualitas, intelektualitas, profesionalitas dan sosialitas.

Globalisasi mengakibatkan pergeseran tata nilai bahkan sistem pemikiran dalam masyarakat. Dalam sejarah, perluasan kekuatan suatu peradaban biasanya terjadi secara silmultan dengan berkembangnya kebudayaan, dan untuk menyebarkan nilai-nilai, praktik-praktik dan institusi-instisusinya kepada masyarakat lain, selalu melibatkan kekuasaan (Huntington, 2001:141). Dari pernyataan Samuel Huntington tersebut, dapat disimpulkan, penjajahan modern terjadi melalui kebudayaan dan sistem tata nilai melalui intitusi-intitusi yang dilakukan secara simultan dan berkelanjutan. Akibatnya kebudayaan lokal (yang terjajah) terkikis dan kehilangan karakteristiknya dan secara tidak disadari terjadi pergeseran tata nilai sosial dalam masyarakat.

Spiritualitas tercerabut dari tata nilai yang sudah mengakar dalam masyarakat. Sistem budaya yang mencerminkan spiritualitas bangsa sedikit demi sedikit hilang karena adanya ukuran positivistik-materialistik yang mewabah. Ini tidak hanya di masyarakat tetapi mahasiswa pun larut di dalamnya. Setidaknya, gerakan yang diusung mahasiswa adalah gerakan bermoral dan beretika yang pemaknaannya jauh ke dalam pertanggungjawaban terhadap Tuhan. Jangan sampai ada pembenaran dari gerakan jalanan yang rusuh lalu kemudian mengatasnamakan rakyat, tetapi dalam pelaksanaannya sama sekali tidak bermoral dan tidak mencerminkan spiritualitas yang santun dan ramah.

Intelektualitas menjadi hal yang penting dalam upaya bertahan hidup dalam ruang global. Mahasiswa adalah kaum intelektual tetapi realitanya hanya sedikit dari mereka yang mampu berwacana tentang teori-teori sosial. Hal ini adalah ironi. Bagaimana mahasiswa akan merubah lingkungannya jika ruang-ruang epistemologisnya masih kurang? Berpengetahuan luas menjadi hal yang wajib dimiliki mahasiswa untuk mengawal setiap permasalahan yang ada di masyarakat. Jangan sampai setelah lulus malah menjadi masalah. Mahasiswa adalah pemberi solusi.

Kita hidup di era pasar. Untuk bertahan hidup maka kita harus memiliki produktivitas barang dan jasa. Profesionalitas manjadi tuntutan setiap orang untuk dapat bertahan hidup di era ini, begitu pun bagi mahasiswa. Mahasiswa harus memiliki merk diri yang akan laku dijual di pasaran, entah di ruang birokrasi sebagai pegawai negeri atau sebagai wirausahawan .Apalagi sekarang sudah tidak begitu nampak sekat-sekat antar negara maka standardisasi global adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi. Siapkah mahasiswa berkompetensi dengan keadaan tersebut? Mahasiswa harus mampu berproduksi dan menjadi figur ekonomi mandiri bagi lingkungannya.

Mahasiswa adalah simbol dari perubahan sosial kemasyarakatan. Karena itu pertaruhan hidup yang dilakukan bukan semata-mata pertaruhan pribadi tetapi harus ada pemaknaan dalam ruang sosial. Nilai-nilai idealitas sosial harus senantiasa diinternalisasikan dalam setiap ranah gerak hidup mahasiswa, entah secara kolektif keorganisasian ataupun secara pribadi. Ketahanan sosial adalah tujuan utama dari gerakan yang dibangun.

Gerakan mahasiswa harus senantiasa dilakukan secara santun dan ramah. Jangan sampai ada steriotipe mahasiswa adalah kaum jalanan yang arogan dan brutal. Perjuangan mahasiswa bukan hanya di jalanan tetapi masih banyak ruang yang bisa diisi dan dimaksimalkan untuk kesejahteraan sosial. Banyak dimensi yang harus dipikirkan dan dikuatkan oleh mahasiswa untuk sekadar bertahan hidup di era global. Produktivitas dan kretivitas harus senantiasa menjadi tuntutan dari gerakan sosial yang dibangun mahasiswa. Jangan sampai kita berlindung dari status sebagai kaum gerakan–aktivis—yang hanya bisa berteriak di jalanan tanpa bisa menjadi figur dari perubahan yang diteriakkan. - Oleh : Anas Maulana


Opini Solo Pos 25 Mei 2010