04 Februari 2010

» Home » Pikiran Rakyat » Humas Sebagai Ilmu dan Profesi

Humas Sebagai Ilmu dan Profesi

Oleh Elvinaro Ardianto

”IPRA: Global Reach Regional Leadership” adalah tema yang diusung dalam IPRA International Conference 2010 di Jakarta,  2-4 Februari 2010. Konferensi internasional ini juga sekaligus melantik orang Indonesia, Dr. Elizabeth G. Ananto, M.M., sebagai Presiden IPRA (International Public Relations Association). Elizabeth yang biasa dipanggil Ibu Ega adalah praktisi senior insan public relations (humas) yang sudah malang melintang, beberapa kali menjadi fungsionaris organisasi profesi humas, yakni Perhumas Indonesia (Public Relations Association of Indonesia). Dengan dilantiknya Bu Ega, alumnus Sastra Inggris Universitas Padjadjaran ini, berarti baru pertama kalinya orang Indonesia memegang tampuk pimpinan organisasi profesi humas sedunia ini, yang selama ini lebih banyak dipegang oleh orang Amerika Serikat dan orang dari negara-negara Eropa.


Kongres Internasional IPRA ini pun menghadirkan pakar humas, James E. Grunig dari Amerika Serikat. Bagi kalangan humas, Grunig sangat familiar dengan bukunya Managing Public Relations dan Excelence Public Relations and Communication Management.  Kongres tersebut dihadiri pembicara dari Amerika Serikat, Saudi Arabia, India, Mesir, Bulgaria, Kenya, Inggris Raya, Cina, Turki, dan tuan rumah Indonesia. Peserta pun datang dari kalangan praktisi dan akademisi dari berbagai negara di belahan bumi ini. Kongres IPRA sebelumnya, September 2007, diselenggarakan di Nusa Dua Bali.

Kongres internasional IPRA yang sudah berlangsung lama dari tahun ke tahun sampai tahun ini, tentunya memberikan nuansa tersendiri bagi perkembangan public relations (humas/hubungan masyarakat), baik sebagai ilmu maupun profesi.

Humas sebagai ilmu. Tentunya kini sudah banyak perguruan tinggi di banyak negara di belahan bumi ini yang menyelenggarakan pendidikan tinggi humas untuk jenjang diploma (D-3), magister (S-2), dan doktor (S-3). Begitu pun di Indonesia sudah sampai jenjang magister (S-2), kendati hanya subprogram studi atau konsentrasi dari program studi komunikasi dan jenjang doktor (S3), kendati hanya penajaman dalam tugas akhir (disertasi) dari program studi komunikasi untuk program doktor.

Humas sebagai profesi. Kini  hampir semua sektor kehidupan memerlukan sentuhan humas. Baik itu dunia bisnis, industri, perdagangan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga sosial, organisasi massa, organisasi politik, lembaga pemerintah, militer, pesantren, maupun lainnya, sudah memiliki departemen atau divisi humas.

Humas sebagai profesi. Bahkan kini bermunculan perusahaan-perusahaan jasa konsultan humas karena humas sudah menjadi industri. Konon, Presiden Clinton, selain memiliki humas Gedung Putih, juga dikelilingi sedikitnya lima konsultan humas swasta. Ketika Clinton melakukan kampanye presiden dalam suatu acara gelar wicara (talk show), ia diatur sedemikian rupa agar performance hingga kaus kakinya jangan sampai tersorot kamera televisi ketika acara itu berlangsung.

Kondisi serupa pun terjadi di Indonesia. Ketika pemilihan langsung calon legislatif dan pemilihan presiden, banyak kandidat menggunakan jasa konsultan humas agar meraup dukungan dan simpati publik atau masyarakat sehingga terpilih menjadi anggota legislatif (DPR, DPD, DPRD) dan presiden.

Kembali kepada bahasan kongres internasional IPRA di Jakarta, tentunya tidak menutup diri dengan para profesional humas, terjadi perbedaan-perbedaan pandangan dari berbagai negara atau wilayah negara. Konferensi ini merupakan peluang sangat besar untuk berbagi pengetahuan, memahami perkembangan humas regional, menciptakan peluang kerja sama di masa  mendatang, dan terjadinya saling pengertian antara peserta kongres. Harapan Maria Gergova sebagai Presiden IPRA 2009 ini, tentunya menjadi harapan semua pembicara dan peserta kongres. Secara umum,  harapan untuk semua insan humas di belahan dunia ini, termasuk di Indonesia.

Regional dan praktisi humas internasional ini tentunya akan membentuk kerja sama dalam membuat jaringan, pembelajaran, berbagi informasi, dan membahas perkembangan sebelumnya. Humas sudah menjadi industri, tantangan, dan peluang yang selalu akan menghinggapi para pofesional humas.

Kongres internasional IPRA mengusung platform menyajikan kepemimpinan intelektual dan pengembangan profesional. Lebih dari 50 tahun IPRA sebagai organisasi profesi humas berkiprah. IPRA beranggotakan humas profesional dari seluruh dunia. Kini, IPRA sudah menjadi jaringan dunia, dengan berita dan informasi. Setiap ahli komunikasi memiliki pencapaian global secara instan atau cepat, tetapi yang lebih penting bagaimana memahami budaya dan perilaku lokal. Di sanalah kepemimpinan regional  secara ekstrem sangat penting.

Tema kongres internasional adalah ”Global Reach Regional Leadership”. Isu ini terjadi di berbagai belahan dunia, tidak hanya terjadi di Asia, tetapi sudah melintasi jagad ini. Suatu waktu akan terjadi kemerosotan serta adanya perbedaan untuk bersatu, dan isu ini menjadi bagian dari dunia yang memengaruhi bagian dunia lainnya. Dan sebuah upaya kinerja dalam sebuah kedudukan utama, di mana dampaknya sudah menyebar kepada para negara tetangga. 

Kehadiran isu ini merupakan sebuah tantangan dan kesempatan emas untuk dihadapi para insan humas. Pandangan Ahmad Fuad Afdal sebagai IPRA National Chair Indonesia, menjadi tantangan tersendiri, mungkin menjadi pekerjaan rumah yang seharusnya tidak diselesaikan atau dibahas oleh pembicara dan peserta kongres, tetapi juga oleh seluruh insan PR di dunia, termasuk Indonesia.

Ketika merespons sebuah krisis, sebuah isu, atau sebuah sebab, kita akan menciptakan sesuatu untuk menangani dampak lebih jauh. Namun ini juga bertujuan bahwa terciptanya suatu kesalahan lebih memengaruhi orang-orang dibandingkan dengan kita memiliki imajinasi. Kita bertujuan menjadikan hal ini relevan, menjadi sumber, dan intelektual. Dan ini menuntut untuk memiliki pencapaian global dari masing-masing regional.

Dengan hadirnya sebuah benua yang memiliki berbagai macam sektor, mulai dari ekonomi sampai dengan budaya, Asia patutmendapatkan perhatian khusus. Akan tetapi, ke mana saja kita di dunia ini. Sekarang ini, para profesional PR harus  lebih fokus, tidak hanya bagaimana kita menciptakan pengaruh terhadap pemangku kepentingan lokal: komunitas, pemilih, atau bangsa. Kita harus fokus ke dalamnya, tidak hanya dapat dirasakan oleh orang lain di tingkat internasional. Kita secara aktual tidak hanya lebih lama bergerak dalam kesunyian.

Pernyataaan para petinggi IPRA tadi tentunya menjadi bahan renungan para insan humas agar lebih mengedepankan lagi sense of belonging (rasa memiliki) dan sense of responsility (rasa tanggung jawab), dan menjadi insan humas yang berhati nurani.***

Penulis, dosen Jurusan Ilmu Humas Fikom Unpad, Ketua Dewan Pakar Badan Pengurus Cabang Perhumas Bandung, Fungsionaris Badan Pengurus Pusat Perhumas untuk pengembangan BPC.

OPini Pikiran Rakyat 5 Februari 2010