23 Mei 2010

» Home » Suara Merdeka » Dampak Krisis Ekonomi Yunani

Dampak Krisis Ekonomi Yunani

Guncangan pada pasar Eropa akan berpengaruh terhadap kinerja ekspor kita, terutama untuk komoditas dan produk-produk tertentu

KRISIS di Yunani muncul setelah Perdana Menteri Papandreou dari Partai Sosialis mencanangkan kebijakan pengencangan ikat pinggang (austerity program), dengan pengurangan berbagai subsidi untuk merespons kinerja ekonomi nasional yang sedang dalam krisis, dan berbagai huru-hara yang muncul karena masyarakat langsung terkena dampak akibat kebijakan tersebut.

Yunani saat ini memang menjadi negara terlemah di Uni Eropa (UE), mewakili 2,7% porsi ekonominya. Saat ini Yunani mengalami defisit budget (bujet) 12,5%, kinerja buruk yang tidak pernah terjadi selama 11 tahun, bahkan 4 kali lebih buruk daripada ambang batas yang ditetapkan oleh UE, yakni  defisit bujet maksimal 3% per tahun. 


Namun saat ini sebenarnya negara-negara lain seperti Irlandia, Spanyol, Siprus, Lithuania, dan Latvia juga mengalami krisis ekonomi. Krisis tersebut berpotensi menimbulkan krisis secara keseluruhan bagi seluruh anggota Uni Eropa.

Mengapa krisis ekonomi yang terjadi pada beberapa anggota lemah Uni Eropa berpotensi menyeret seluruh negara yang tergabung di dalam UE? Jawabannya adalah akibat adanya kesepakatan bersama yang tertuang dalam structural cohesion funds, yaitu kesepakatan anggota yang lebih kaya seperti Jerman, Prancis, Inggris, Italia dan sebagainya untuk membantu negara-negara yang lebih miskin.

Dalam rangka upaya untuk mengatasi krisis tersebut, Uni Eropa berkomitmen untuk menggelontorkan dana bail out 110 miliar euro yang diterimakan secara bertahap: tahap pertama 30 miliar diterimakan pada Mei ini.

Tanda kelesuan perekonomian UE mulai nampak, belum sembuh benar dari krisis perekonomian global, krisis ekonomi pada sebagian anggotanya. Contohnya pertumbuhan (Rehn, 2010) GDP 2010-2011 semula diprediksikan mencapai angka 1- 1,7%, namun berbagai pihak pesimistis dengan estimasi tersebut dengan melihat perkembangan yang terjadi, dan bila tidak diwaspadai UE bisa terjatuh pada pertumbuhan GDP minus 2,5.
Pengaruh ke Indonesia Angka pengangguran meningkat menjadi 9,8% tahun ini, utang pemerintah juga meningkat mencapai 83,8% dari total GDP-nya. Pemerintah Yunani mengeluarkan obligasi atau surat utang negara (SUN) senilai 53 miliar euro untuk mengatasi krisis perekonomiannya. SUN tersebut merupakan 20% dari total GDP Yunani. Sampai Maret 2010,  rating SUN jatuh sampai 39 poin atau 5,07% (Nuerger, 2010).

Kejadian tersebut memacu lembaga-lembaga pemeringkat seperti Standard & Poor, Moody Investment Service, dan Fitch rating merilis pengumuman untuk mem-black-list SUN Yunani.

Belum sembuh benar dari krisis subprime mortgage di AS yang berpengaruh pada perdagangan internasional, khususnya di Eropa, krisis itu ternyata berpengaruh terhadap perdagangan antara UE dan  Indonesia. Data 2009 menyebutkan terjadi penurunan ekspor Indonesia 14,76%. Nilai total perdagangan internasional dengan UE mencapai 22,11 miliar dolar AS. Ekspor kita ke UE didominasi oleh batu bara, minyak sawit mentah (CPO), alas kaki, karet, kopra, produk tekstil dan garmen serta komponen alat-alat elektronika. Adapun kita mengimpor helikopter, satelit, susu dan produk susu, serta mesin-mesin dan elektronika. Posisi neraca perdagangan Indonesia terhadap UE adalah surplus 4,82 miliar dolar AS. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa guncangan pada pasar Eropa akan berpengaruh terhadap kinerja ekspor kita, terutama untuk komoditas dan produk-produk tertentu.

Belum diketahui seberapa besar prediksi dampak atau magnitude  bila krisis benar-benar terjadi  di Eropa terhadap perekonomian kita, karena ada faktor lain, di samping ekspor/impor, yaitu industri pariwisata, bisnis jasa keuangan, faktor-faktor psikologis investor di pasar modal dan uang.

Namun bila hanya memakai patokan negara tujuan ekspor utama Indonesia, nampaknya guncangan di Eropa tidak akan begitu besar magnitude-nya terhadap perekonomian kita. Sebagai contoh pada Januari-Februari 2010 ekspor terbesar kita adalah ke negara Jepang (1,07 miliar dolar AS), China (986,2 juta dolar), dan AS (907,3 juta dolar). (10)

— Vincent Didiek WA, guru besar international business Fakultas Ekonomi dan Program Pascasarjana Manajemen Unika Soegijapranata Semarang

Wacana Suara Merdeka 24 Mei 2010