07 Maret 2010

» Home » Pikiran Rakyat » Magnet Malaysia Bagi Pekerja Indonesia

Magnet Malaysia Bagi Pekerja Indonesia

MALAYSIA masih menjadi magnet  kuat bagi mereka yang ingin mengubah penghidupan. Tak heran, negara semenanjung ini menawarkan kesempatan kerja luas dengan penghasilan yang menggiurkan. Dampaknya, buruh migran dari berbagai negara tetangga yang berdekatan dengan Malaysia berdatangan ke sana untuk mengadu nasib.

Berbagai upaya dan cara ditempuh untuk mendapatkan pekerjaan di sana. Ada yang melalui jalur formal dengan mendatangi penyalur jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI), ada pula yang menempuh cara ilegal atau di sana biasa disebut sebagai pendatang haram. Biasanya para pendatang haram ini datang melalui jalur laut dengan kapal kayu yang populer dengan sebutan entekong.



Pemerintah Malaysia sebenarnya sering melakukan razia terhadap pendatang haram dan memulangkan ke Indonesia. Namun hal itu tidak menyurutkan langkah migran ilegal untuk mendapatkan penghasilan yang besar guna memperoleh penghidupan yang lebih baik.

Informasi tersebut diketahui ketika penulis mendapat kesempatan mendatangi Malaysia dan Thailand dalam kegiatan press tour. Dalam perjalanan  ke dua negara yang ditempuh memakai pesawat, bus dan kereta api, banyak hal didapat, salah satunya tentang buruh migran.

Ada beberapa titik keberangkatan buruh migran ke Malaysia. Buruh migran dari Sumatra Utara memilih Bandara Polonia Medan ataupun Pelabuhan Laut Belawan, sedangkan buruh migran dari daerah Riau dan sekitarnya memilih titik keberangkatan dari Pelabuhan Laut Batam Center, Pulau Batam. Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten dan Husein Sastranegara, Bandung juga menjadi titik keberangkatan buruh migran ke Malaysia dan daerah sekitarnya.

Yang menarik Bandara Husein Sastranegara Bandung lebih disukai sebagai titik keberangkatan ke Malaysia dibanding Bandara Soekarno-Hatta. Seperti  dikemukakan Suharyati (39), buruh migran asal Bandar Lampung. Ibu dua anak yang bekerja di Malaysia sebagai pembantu rumah tangga setahun ini, kembali ke Malaysia sesudah berlibur  di kampung halaman. Dia diminta majikannya kembali ke Malaysia melalui Bandara Husein Sastranegara.

Padahal, lebih mudah bila Suharyati memilih titik keberangkatan melalui Bandara Soekarno-Hatta. Selain lebih efisien, di Bandara Soekarno-Hatta  tersedia banyak penerbangan langsung maupun tidak ke Kuala Lumpur. Berbeda dengan Bandara Husein Sastranegara, hanya satu maskapai penerbangan yang melayani penerbangan ke Kuala Lumpur. ”Saya tidak tahu kenapa majikan menyuruh kembali ke Malaysia dari Bandara Husein. Padahal dari Lampung saya singgah di Jakarta,” katanya.

Hal sama dilakukan buruh migran lain, seperti Sri dan Julianti asal Jepara yang memilih Bandara Husein Sastranegara sebagai titik keberangkatan ke Malaysia. Bahkan Sri yang bekerja di salah satu industri yang ada di Kuala Lumpur membawa teman sekampungnya untuk bekerja.

Saat ditanya mengapa mencari kerja sampai ke negara tetangga, jawaban yang diterima sangat klise, tidak sulit mencari pekerjaan di sana, majikannya baik, dan gajinya besar. 

**

Pendapatan buruh migran yang bekerja di sektor rumah tangga sekitar Rp 1,4 juta/bulan, sedangkan yang bekerja di pabrik, gajinya sekitar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,7 juta per bulan. Bagi yang bekerja di pabrik, uang tersebut belum termasuk uang lembur atau kerajinan.

”Bila saya rajin, dapat uang kerajinan 50 ringgit per minggunya, tetapi kalau bolos dua hari berturut-turut dipotong 50 ringgit. Uang lebih juga didapat kalau piket dari jam tujuh pagi hingga jam tujuh malam sebesar 30 ringgit,” ucap Pondang, pekerja industri yang ditemui penulis sedang makan di Butterworth, yaitu daerah pelabuhan penghubung dengan Pulau Penang melalui feri.

Siti asal Garut, yang bertemu di tempat yang sama, mengatakan buruh migran perempuan dari Jabar, biasanya memilih bekerja di industri yang ada di sekitar Kuala Lumpur, seperti di pabrik kaus kaki. Sementara yang laki-lakinya bekerja di sektor bangunan. Siti tinggal di sana selama tujuh tahun dan memilih menjual air sebagai pekerjaannya. ”Tidak banyak orang Jabar yang berjualan di sini,” tuturnya.

Sektor perdagangan kecil, meskipun merupakan salah satu peluang ekonomi yang bisa diraih buruh migran Jabar, tampaknya kurang atau belum diminati. Tidak heran di antara rumah makan, pedagang kelontong eceran ataupun penjual minuman dan makanan  tidak banyak ditemui buruh migran asal Jabar. Pada umumnya, di sektor seperti itu yang banyak ditemui adalah buruh migran dari Minang atau Jawa.

Soeroso Dasar, pengamat masalah sosial yang menjadi teman seperjalanan penulis, menuturkan, tidak terlalu dominannya buruh migran asal Jabar mungkin karena cenderung memilih bekerja di Timur Tengah dengan alasan seagama. Malaysia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam masih belum merupakan daya tarik.

Pernyataan menarik dan mengejutkan tentang buruh migran asal Jabar datang dari Adi, pedagang makanan dan minuman asal Aceh. Menurut dia, buruh migran Jabar jarang mengaku orang Sunda, mereka lebih senang mengaku Indon (sebutan orang Indonesia di Malaysia). Ketika penulis mengejarnya dengan menanyakan alasannya, Adi mengatakan tidak tahu.

Saat diminta pendapatnya seputar berita miring majikan yang kejam terhadap pembantu rumah tangga dan sisi kelam lainnya, buruh migran yang ditemui penulis mengatakan tidak tahu dan tidak pernah mendengar. Mereka jarang berkomunikasi dengan sesama buruh migran lainnya yang bekerja di sektor rumah tangga. Mereka hanya bekerja dan menunggu libur panjang untuk bisa pulang ke kampung halamannya.

”Kondisi berbeda terjadi di Singapura. Di sana buruh migran Indonesia, setiap Sabtu sore berkumpul sepanjang Orchard Road untuk melepas rindu bersama buruh migran lain,” ucap Soeroso.

Soeroso yang menjadi teman diskusi penulis berpendapat melihat gencarnya pembangunan fisik yang dilakukan pemerintah Malaysia, sebenarnya buruh migran asal Jabar mempunyai potensi memperoleh pekerjaan di Malaysia dalam sektor informal, karena sektor tersebut sangat diminati buruh migran asal Jabar. Contohnya, setelah tsunami di Aceh, banyak buruh migran dari Jabar yang bekerja di sektor bangunan datang ke sana.

”Malaysia yang serumpun Melayu dengan Indonesia menjadikan komunikasi begitu mudah dan hubungan kedua negara tetangga ini tidak masalah. Sebenarnya ini bisa dijadikan daya tarik tersendiri bagi buruh migran asal Jabar. Apalagi jarak yang tidak terlalu jauh dan adanya penerbangan langsung dari Bandung bisa menggoda untuk melonjakkan buruh migran asal Jabar,” tuturnya.

Tingginya akselerasi pembangunan di Malaysia bisa dijadikan contoh bagaimana menggerakkan dan memanfaatkan potensi yang ada. Negara yang ditopang sektor perminyakan, pertambangan, dan perkebunan tersebut ternyata bukan hanya memberikan kesejahteraan bagi bangsanya, tetapi juga bagi bangsa di sekitarnya. Negeri jiran (tetangga) juga kecipratan rezeki dengan pembangunan yang terjadi di sana.

”Tidak terhitung berapa banyak buruh migran yang menggerakkan pembangunan di Malaysia. Tidak dapat dibayangkan bagaimana wajah Malaysia tanpa adanya buruh migran. Di satu pihak, Malaysia kekurangan tenaga kerja, di lain pihak negara tetangga kelebihan tenaga kerja,” ujarnya. (Yeni Ratnadewi/”PR”)***
Opini Pikiran Rakyat 08 Maret 2010