29 Desember 2009

» Home » Kompas » Setitik Harapan di Balik Kemarau Prestasi

Setitik Harapan di Balik Kemarau Prestasi

Ibarat sebuah mobil, tahun 2009 tak ubahnya saat ”turun mesin” bagi bulu tangkis Indonesia. Gelar juara internasional menjauh dari genggaman seiring minimnya stok pemain andalan, yang sebagian rentan cedera. Dukungan dari pemain muda juga belum bisa diharapkan karena kesenjangan kualitas masih terasa.
Pada dua kejuaraan utama tahun ini, kejuaraan dunia perorangan dan beregu campuran Piala Sudirman, Indonesia pulang dengan tangan hampa. Sepi prestasi juga terlihat pada rangkaian 12 turnamen super series, yang menjadi hasil terburuk Indonesia sejak grand slam-nya bulu tangkis ini diluncurkan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) tahun 2007.

 

Setelah menjadi finalis dalam dua gelaran sebelumnya di Beijing 2005 dan Glasgow 2007, tim Piala Sudirman Indonesia hanya bertahan hingga empat besar di Guangzhou. Sony Dwi Kuncoro dan kawan-kawan menyerah kepada Korea Selatan di semifinal, yang kemudian ditaklukkan China di final.
Para pemain China juga mendominasi kejuaraan dunia perorangan dengan memborong empat gelar. Hasil terbaik Indonesia di Hyderabad adalah lolosnya Nova Widianto/Liliyana Natsir ke final ganda campuran, satu-satunya final tanpa pemain China. Namun, juara dunia 2005 dan 2007 ini gagal mencetak hat- trick, dikalahkan Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (Denmark).
Sony sempat bermain bagus, mengalahkan pemain nomor satu dunia Lee Chong Wei (Malaysia) di perempat final. Namun, di semifinal dia harus mengakui keunggulan Lin Dan. Taufik Hidayat juga maju ke semifinal sebelum disingkirkan Chen Jin. Adapun hasil maksimal pemain Indonesia lainnya hanya mencapai delapan besar.
Indonesia tetap bertumpu pada ganda campuran Nova/Liliyana dan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan pada ajang super series. Tahun 2009, mereka masing-masing merebut dua dari hanya lima gelar yang bisa dibawa pulang. Hasil ini merosot jauh dari 10 gelar super series plus satu emas Olimpiade 2008 dan tujuh gelar super series ditambah dua gelar juara dunia setahun sebelumnya.
Yang cukup melegakan, satu dari lima gelar super series itu dipersembahkan Simon Santoso di Denmark Terbuka. Simon sepertinya telah mengatasi tekanan mental di lapangan dan mulai mengambil tanggung jawab setelah sekian lama hanya menjadi pendamping Taufik dan Sony. Dia lalu melengkapi prestasinya dengan memenangi emas pada SEA Games Laos.
Dengan tambahan emas dari Simon itu, pasukan Merah Putih total menyabet empat emas, dua perak, dan dua perunggu dari Laos. Meski tetap juara umum, hasilnya anjlok dari tujuh emas pada SEA Games 2007. Bahkan, sekadar memenuhi target lima emas pun meleset karena di nomor tunggal, ganda, dan beregu putri, Adriyanti Firdasari dan kawan-kawan kalah bersaing dari Malaysia dan Thailand.
Gejala menurunnya prestasi Indonesia sudah terbaca sejak akhir tahun lalu. Usainya kontrak dengan Yonex sebagai sponsor utama bersamaan dengan berakhirnya kepengurusan Sutiyoso di PBSI. Pelatnas dibubarkan sementara dan pemain dikembalikan ke klub masing-masing. Pada dua turnamen pertama di awal tahun, pemain pun berangkat dengan merogoh kocek sendiri.
Kepengurusan baru PBSI di bawah Djoko Santoso lalu menelurkan tradisi, yakni mengikat pemain dalam kontrak tahunan dengan hak dan kewajiban yang lebih jelas. Di antaranya adalah program retraining, kembali berlatih dan tidak dikirim ke turnamen berikut jika pemain gagal memenuhi target di turnamen sebelumnya.
Negosiasi kontrak dengan pemain ini tak berjalan mulus. Sejumlah pemain senior hengkang dari pelatnas dengan berbagai alasan, hanya menyisakan 18 pemain utama bersaing di tingkat dunia. Dalam perjalanannya, beberapa pemain juga tampil tidak maksimal karena terganggu cedera atau sakit, seperti yang menimpa Kido, Maria Kristin Yulianti, Greysia Polii, Firda, dan Sony.
Masalah terakhir ini juga yang memicu kejutan pada akhir tahun, yaitu mundurnya Kido/Hendra dari pelatnas. Dengan kondisinya, Kido merasa tak bisa 100 persen mengikuti program latihan. Meski keduanya masih bersedia membela tim nasional jika diperlukan, mundurnya ganda putra terbaik ini meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi PBSI untuk mempercepat proses regenerasi pemain.
Usaha memperbaiki itu setidaknya terlihat dengan keseriusan membina pelatnas pratama, mengirim mereka berlatih mental dan disiplin di Akademi Militer Magelang. Hasilnya, Rendy Sugiarto/Angga Pratama keluar sebagai juara yunior Asia. Indonesia juga menempatkan finalis di tiga nomor ganda pada kejuaraan dunia yunior di Malaysia.
Upaya menjaring pemain muda juga dilakukan dengan menaikkan hadiah dan gengsi dari delapan seri sirkuit nasional. Para pemain pelatnas pratama pun mulai bersaing di kelompok dewasa, dengan total enam gelar dari tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, dan ganda campuran.
Selama beberapa tahun terakhir, fokus untuk memanen prestasi sepertinya membuat PBSI alpa membina pemain muda. Seretnya prestasi tahun ini adalah akibat yang harus diterima. Karena itu, semua pihak tampaknya harus bersabar menunggu panen yang menghasilkan karena menciptakan juara tak semudah membalikkan telapak tangan.
Setidaknya, PBSI sudah memiliki sebagian modal dengan meningkatnya nilai kontrak Yonex yang naik sekitar 60 persen menjadi 2,5 juta dollar AS per tahun hingga 2012. Modal yang, jika dimanfaatkan secara maksimal dan diiringi usaha keras, seharusnya bisa mengembalikan prestasi bulu tangkis Indonesia.


J Waskita Utama
Opini Kompas 30 Desember 2009