24 Februari 2010

» Home » Pikiran Rakyat » Warna-warni Maulid Nabi

Warna-warni Maulid Nabi

Oleh Nurul Huda S.A.

Maulid Muhammad saw. dalam perspektif Islam merupakan salah satu dari tiga momen besar. Dua lainnya adalah Idulfitri dan Iduladha. Oleh karena itu, peringatan Maulid biasanya dilakukan sangat meriah.

Muhammad dalam interpretasi dan tafsir keagamaan (Islam) merupakan Nabi yang membawa pesan dan ajaran dari Tuhan sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi sekalian yang ada dijagat raya ini). Dengan demikian, ia menduduki posisi yang sangat istimewa di mata umatnya. Dalam diri Muhammad terdapat teladan yang tiada tandingannya (uswatun hasanah), beliau -- sebagaimana hadis yang diriwayatkan Aisyah -- selalu bertingkah laku, bertindak tanduk, dan berakhlak dengan dilandasi ayat Allah dalam Alquran.



**

Hasil potretan sejarah mengabarkan, peringatan Maulid Nabi pertama dilakukan pemerintahan Harun al Rasyid dari Dinasti Fatimiyah di Mesir. Harun al Rasyid menebarkan sedekah bagi kaum fakir miskin dan membuat pesta yang meriah. Dalam perspektif lain, peringatan Maulid Nabi pertama dilaksanakan pada awal abad ke-12 Masehi ketika umat Islam di Palestina menghadapi perang di bawah komando panglima Shalahuddin al Ayyubi. Tujuan peringatan ini untuk membangkitkan semangat juang umat Islam yang kian surut.

Perayaan ini menyebar ke seluruh dunia. Misalnya di kerajaan Islam Arbela Irak Utara. Kerajaan ini melakukan penyambutan Maulid sejak bulan Muharam dan puncaknya pada 12 Rabiul Awal. Pada puncak acara, seluruh tamu dihidangi makanan terbaik sambil mendengarkan pembacaan riwayat Muhammad. Sebagian umat meyakini, ziarah pada 12 bulan Rabiul Awal memiliki nilai lebih. Misalnya di Aljazair pada hari kelahiran Muhammad, masyarakat berziarah ke makam wali dan puncak acaranya penguasa (raja) membagikan uang dan jenis sedekah lainnya kepada rakyatnya sebagai simbol kemurahan Muhammad yang menitis pada diri raja.

Tradisi ngalap barakah ini juga merasuk pada masyarakat Indonesia, misalnya di Cirebon, setiap tanggal 11 dan 12 Rabiul Awal umat Islam berziarah ke makam  Sunan Gunung Jati di Cirebon Jawa Barat. Di Sumatra Barat pada 12 Rabiul Awal umat Islam berziarah ke kuburan Syekh Burhanuddin (ulama besar). Ini karena masyarakat meyakini kedudukan ulama sebagai pewaris para nabi (al ulama’u waratsatul ambiya’).

Di Yogyakarta dan Solo -- dua tempat yang (telah dikultuskan) menjadi penjaga kewibawaan budaya Jawa -- juga memiliki tradisi unik. Di samping acara gerebeg yang dilakukan setiap tahun, juga digelar Gerebeg Maulid Dal (Dal: nama salah satu  bulan dalam kalender Jawa) yang dilaksanakan setiap delapan tahun sekali (sewindu). Di Cirebon ada acara pelal, yaitu acara puncak Maulid Nabi.  Pada acara Maulid Nabi di Aceh, hingga tiga bulan berikutnya, masyarakat mengadakan upacara besar-besaran dengan memasak makanan terlezat.

**

Peringatan Maulid Nabi dengan tradisi-tradisi yang beraneka warna seperti itu bukan berarti berjalan dengan mulus, tanpa rintangan. Karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, banyak ulama yang melarang memperingati Maulid Nabi dan menyatakan tidak islami. Perlawanan ini dimulai dari generasi Imam Malik dan didengungkan oleh Ibnu Taimiyah dan ulama lain segenerasi. Ia berpendapat, segala sesuatu yang berkaitan dengan waktu, tempat, serta amal  adalah ibadah, dan hanya boleh dilakukan oleh manusia apabila telah diuswahkan (dicontohkan) Muhammad saw.

Akhirnya, acara Maulid Nabi mengalami pergeseran dari tradisi yang berkaitan dengan ekonomi dan bisnis yang diwujudkan dengan perayaan, makanan lezat dan seterusnya, menuju yang sifatnya renungan, refleksi dengan mengacu pada perilaku Nabi Muhammad. Dengan cara ini diharapkan peringatan Maulid Nabi tidak terjebak dan terpelintir sekadar untuk kepentingan ekonomi dan politik, tetapi, diharapkan dapat membangkitkan spiritualitas umat sesuai dengan teladan Muhammad saw.

Dapat dilihat bagaimana peringatan Maulid Nabi ini sangat terkait dengan upaya penindasan, hegemoni, dan rasa superioritas  dari penguasa. Bahwa dengan peringatan Maulid ini para raja (dengan memberikan sedekah kepada rakyat) menempatkan diri pada posisi suci sebagai perwakilan dari Nabi Muhammad. Dengan cara seperti ini, bisa jadi Maulid hanya dijadikan sebagai alat politik penguasa agar rakyatnya menjadi tunduk dan patuh. Oleh karenanya, penguasa bisa jadi dapat tergelincir untuk memanfaatkan rakyat sebagai legitimasi dengan menunjukkan kemurahannya.

Bila benar seperti ini, dapat melepaskan esensi peringatan Maulid, yakni untuk membangkitkan spiritualitas umat, menggelorakan revolusi yang dilakukan Muhammad terhadap segala bentuk penindasan, kekufuran, dan hegemoni, menjadi hal sangat dangkal, sekadar alat untuk melanggengkan kekuasaan. Padahal, dari pengalaman peradaban umat manusia, kekuasaan apa pun bila tanpa adanya kontrol secara ketat dari rakyat hanya akan melahirkan rezim-rezim yang korup dan represif. Bila ternyata peringatan Maulid Nabi hanya melahirkan situasi yang demikian (menghegemoni rakyat, kekuasaan korup, dan represif), upaya Imam Malik, Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya untuk menghapuskan praktik hegemonik ini layak kita dukung (bukan sekadar dipertimbangkan). Akan tetapi, bukan pada penghapusan peringatan itu sendiri. Karena hakikat awal Maulid Nabi untuk kebangkitan spiritual umat telah terpelintir menjadi alat hegemoni dari penguasa. Oleh karena itu, setiap kita memperingati Maulid Nabi, hendaknya senantiasa merenungkan secara mendalam misi profetis kenabian yang sangat emansipatoris ini. ***

Penulis, Deputi Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Opini Pikiran Rakyat 25 Februari 2010